WAKTU

Dewandaru, “Pohon kekayaan” di Gunung Kawi

Gunung Kawi, terletak di ketinggian 500 sampai dengan 3000 meter di atas permukaan laut (dpl), persis berada di Desa Wonosari Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Menuju tempat ini harus melalui jalanan yang berliku dan menanjak naik.
Namun, jalanan seperti seolah bukan halangan bagi beberapa mobil yang melaju pelan. Mobil-mobil itu menuju ke sebuah pesarean yang berada di Gunung Kawi yang terletak di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang.
Mulai dari warga keturunan tionghoa, hingga masyarakat biasa bercampur baur menjadi satu. Tujuannya mereka sama, berziarah di makam Raden Mas Kyai Zakaria II alias Mbah Jugo, dan Raden Mas Imam Sujono, alias Mbah Sujo.
Dari tempat parkir, berjalan menyusuri penginapan dan hotel yang berjajar menyambut tamu. Sementara berbagai jenis toko makanan hingga toko perlengkapan ziarah juga berjajar rapi. Berjalan mendekati kompleks makam, terlihat beberapa warga melihat bangunan Kelenteng Kwan Im yang ludes terbakar api  beberapa hari sebelumnya.


Beberapa warga keturunan Tionghoa, secara bergantian menuju ciamsi, atau ruang untuk ajang meramal nasib ala Tionghoa. Sementara bagi warga biasa, sebelum masuk menuju kompleks makam, menyempatkan diri untuk membeli bunga seharga Rp 2.000 sebagai syarat ziarah.
Jarum jam baru menujukkan sekitar pukul 16.00 sore, diareal pemakaman sudah terliat belasan orang duduk di bangku panjang, mirip bangku di halte bis. Sementara beberapa orang terlihat duduk bergerombol di dekat sebuah pohon yang berusia sekitar 2 abad.
Dengan mimik muka serius, seolah gerimis hujan yang turun sore itu tidak ada artinya. Beberapa diantaranya mendongakkan kepala, melihat diatas pohon itu. Sementara lainnya, berjalan mengitari pohon sambil mata tajam mengawasi lantai di bawah pohon yang kokoh berdiri.
Begitu sehelai daun terlihat jatuh, beberapa orang yang bergerombol itu berebut untuk memungutnya. Tawa cekikikan diantara mereka seolah baru menemukan bongkahan emas dan berlian.
Pohon dewandaru, atau ceremai Belanda, begitu disebut pohon yang ditunggui jatuhnya daun atau buahnya oleh orang-orang itu. Berharap ada berkah yang didapat saat mendapatkan daun atau buah dewandaru yang buahnya memang mirip buah ceremai ini.
Ada mitos yang diyakini oleh peziarah di kompleks pemakaman Gunung Kawi ini, yakni siapa saja yang mendapat buah atau daun dari pohon dewandaru ini akan lancar rezekinya. Tidak boleh memetik sendiri, harus menunggu daun atau buahnya jatuh sendiri.
Pohon yang oleh sebagian orang diyakini adalah tongkat dari Raden Mas Imam Sujono, alias Mbah Sujo yang ditancapkan dan berubah menjadi pohon. Ada pula yang meyakini pohon ini ditanam oleh kedua tokoh sebagai penanda bila daerah Gunung Kawi subur, tentram dan wilayah yang aman.
Karena itulah banyak masyarakat baik keturunan tionghoa atau masyarakat biasa yang datang dari berbagai pelosok daerah untuk menunggu kejatuhan daun atau buahnya. Mengharap ada berkah kelancaran rezeki yang didapat.
Misti, warga Tawangmangu yang kini tinggal di Jakarta misalnya. Dia pernah mendapat 3 buah dewandaru saat berziarah pada 2001 silam. Diyakininya, setelah mendapat buah itu usaha konveksi kaos dan jual batik di jakarta lancar.
Bahkan dengan lancarnya rezeki yang diyakini berkah dari buah dewandaru, Misti bisa membangun rumahnya di Tawangmangu hingga menjadi bangunan 3 tingkat hingga mampu membeli mobil.
Namun, bisnisnya merosot tajam dan dikatakannya hancur pada 2008 silam. Untuk itu dia kembali ke Gunung Kawi untuk ngalap berkah dari pohon dewandaru.
Berangkat dari Jakarta secara estafet dengan naik bus sejak Selasa (6/4), dia menyempatkan untuk berziarah di Kediri sebelum tiba di Gunung Kawi, Kabupaten Malang pada Kamis (8/4) siang dan pada Jumat (9/4) pagi dia kembali langsung ke Jakarta.
“Memang semua itu dari tuhan, tapi kalau kita tidak berusaha maka saya yakin tidak akan membuahkan hasil,” tutur Misti janda beranak satu. Matanya tajam memandang ke atas pohon, sesekali melihat di lantai bawah disekitar pohon. Berharap ada daun atau buah yang jatuh dan bisa diambilnya.
Dia sendiri mengaku sudah sering berziarah ke tempat yang dianggap keramat. Bahkan pernah semalam di sebuah kuburan yang dianggap keramat, yakni makam mbah joko lelono di sekitar Tawangmangu juga.
Kali ini misti kembali lagi ke Gunung Kawi untuk berdoa dan meminta berkah dari buah atau daun dewandaru ini. “Saya kembali untuk berusaha lagi, saya merasa cocok dengan Gunung Kawi,” tuturnya sambil menunjukkan buah dewandaru miliknya yang sudah hancur dan berwarna kecoklatan. Buah itu dibungkus dengan menggunakan uang dua puluh ribuan yang uangnya juga terlihat sudah lecek karena disimpan didompet.
Meskidemikian, dia tetap memberi minyak wangi pada bungkusan buah dewandaru miliknya itu setiap jumat. “walau hanya dapat daun, simpan saja di dompet dan bungkus dengan uang kertas sebagai pancingan. Tapi harus diyakini akan membuahkan hasil,” katanya.
Menjelang magrib, hujan yang turun dengan lebat membuat beberapa orang meninggalkan pohon itu. Saat malam, atau menjelang dibukanya pintu masuk ke dalam makam, area pohon itu kembali didatangi oleh beberapa orang.
Sambil menunggu ritual berdoa di dalam makam, baik pria atau wanita, pribumi atau keturunan tionghoa juga berharap kejatuhan buah dewandaru. Sekitar pukul 20. 00, sesaat gerombolan orang yang menunggu pohon masuk ke dalam makam yang persis berada disamping pohon dewandaru. Berbaur dengan peziarah yang baru saja datang dengan membawa bunga ziarah.
Semerbak aroma kemenyan, memenuhi komplek areal pemakaman itu. Dengan dipimpin oleh seorang petugas dengan membawa perlengkapan ritual. Peziarah menyerahkan bunga kepada sang petugas yang lantas membaca doa dengan bahasa jawa. Hanya beberapa menit ritual itu, selesai doa, beberapa kembali menunggu pohon, sementara sebagian besar lagi memilih untuk turun keluar kompleks.
Pohon dewandaru sendiri terletak dikomplek makam Kyai Imam Sudjono dan Raden Mas Zakaria II. Dari satu induk pohon, terdapat beberapa anak pohon yang menjuntai tinggi. Pohon ini dikelilingi pagar yang terbuat dari teralis besi. Pagar yang mengelilingi pohon hanya berukuran lebar 2x0,5 meter dengan ketinggian sekitar 0,5 meter. Hanya terlihat beberapa buah saja yang muncul di pohon, tidak lebih dari sepuluh buah.
Batang pohonnya berwarna putih abu-abu dengan buahnya mirip seperti buah ceremai. Tidak banyak memang buah yang dihasilkan dari pohon ini, namun dipastikan selalu berbuah. Usia pohon sendiri sudah teramat tua. Diperkirakan ditanam sekitar tahun 1871 M oleh Kyai Imam Sudjono.
Meski hujan deras, daun yang jatuh hanya beberapa lembar saja. Sementara buahnya, kokoh menempel di dahan. Seolah-olah pohon tua itu masih cukup kuat menghadapi angin dan hujan yang menghantam.
Cahyono, salah seorang petugas Pusat Informasi Komplek Gunung Kawi mengatakan, pohon ini sendiri adalah tanaman dari Belanda. Tanaman jenis ini di Indonesia hanya ada di Gunung Kawi saja, karena dibawa oleh Kyai Imam Sudjono dari Batavia.
“Entah bagaimana kronologisnya, tapi yang jelas bukan dari tongkat Kyai Imam Sudjono atau tongkat milik Kyai Imam Zakaria yang ditancapkan dan berubah menjadi pohon dewandaru yang kini usianya lebih dari 200 tahun,” jelas Cahyono.
Menurutnya, pohon dewandaru selalu berbuah meski tidak banyak. Namun saat September, pohon ini bisa berbuah sedikit lebih banyak dibanding dengan bulan-bulan biasa. Cahyono menambahkan, dibutuhkan waktu sekitar satu bulan buah dewandaru bisa matang. Yakni proses dari masih bunga, menjadi buah kecil berwarna hijau, kemudian kuning, dan menjadi kuning kemerahan hingga merah kehitaman sebagai pertanda buah sudah masak.
“Kalau soal buah atau daun dianggap bisa mendatangakn rezeki, itu menurut keyakinan masing-masing,” tutur Cahyono.

Dewandaru, Tanaman Berumur Panjang

Dewandaru atau nama latinnya Eugenia uniflora, termasuk tanaman dikotil berakar tunggang.  Tanaman ini secara genetical cukup tahan lama atau berumur panjang. Apalagi berada di daerah yang suhu udaranya menunjang seperti di Gunung Kawi, Kabupaten Malang. Demikian dikatakan Ir. Sitawati, MS dari jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang.
“Tanaman ini berasal dari wilayah Amrika Selatan, terutama dari Brazil, Argentina dan Uruguay. Pohon Dewandaru cukup tahan lama dan tidak mengenal musim, makanya selalu berbuah kapan saja,” urai Sita.
Menurutnya, tanaman jenis perdu ini memang tidak mengenal musim. Dengan kata lain, setiap saat bisa berbuah. Untuk pohon yang yang berada di Gunung Kawi, kata Sita, suhu udara yang sejuk mempengaruhi usia pohon bisa sampai tua dan tetap berbuah.
Daunnya yang kecil, membuat pohon ini cukup efisien untuk proses berfotosintesis sehingga tahan lama. Sehingga bisa memperlambat untuk proses gugur daun atau pun buahnya. Karena gas ettilen untuk fotosintesis di dalam ranting atau dahan pohon bisa ditahan lebih lama lagi.
“Di tempat yang panas, daun atau buah pohon ini mudah sekali jatuh. Sementara di gunung Kawi, suhu udara yang sejuk atau rendah membuat tanaman ini tidak mudah jatuh daun dan buahnya,” tutur Sita.
Kalau saja pohon ini masih muda, sambung dia, bisa jadi berbuah cukup lebat seperti pohon umumnya. Namun karena usianya yang tergolong tua, ditambah lagi suhu udara yang mendukung, setidaknya setiap bulan bisa menghasilkan 10 buah saja sudah bagus, jelas Sita.
“Apakah benar buah yang jatuh dari pohon bisa membawa peruntungan bagi yang menemukannya, itu saya tidak tahu,” kata Sita.
Buah dan daun dewandaru yang dalam bahasa latin disebut eugenia uniflora sendiri diperayai mempunyai khasiat untuk kesehatan. Yaitu bisa mengurangi tekanan darah tinggi dan untuk menurunkan kolesterol. Tanaman perdu ini tumbuh secara tahunan dengan tinggi lebih dari 5 meter. Habitat dan penyebaran di negara-negara Amerika Selatan terutama di Brasil, Argentina, Uruguay, dan Paraguay. Tanaman ini menyebar di Indonesia hingga di daerah Sumatera dan Jawa. Di Indonesia di kenal dengan sebutan ceremai asam, belimbing londo, dewandaru.

3 komentar:

  1. ini beneran ta? ojok goro

    BalasHapus
  2. Percaya atau tidak tergantung dari kita sendiri bro. saya jual bibit buah dewandaru, kunjungi http://salsalinx.blogspot.com

    BalasHapus
  3. boleh percaya, sangat boleh tidak percaya. Trim's sudah mampir

    BalasHapus