WAKTU

Mbah Munaji, Pande Besi Konvensional Yang Terus Eksis


Munaji (83), warga Jl Pande, dusun Junwatu, desa Junrejo ini adalah salah satu pande besi tradisional yang masih eksis di Kota Batu. Lelaki yang akrab dipanggil Mbah Munaji ini memulai aktivitas pande besi sejak 1945 silam. Hingga kini pun masih aktif membuat berbagai kerajinan besi.
Berbagai karyanya ini mulai dari sekop, cangkul dan peralatan pertanian lainnya dibuat di bengkel pande besi milik Mbah Munaji. Selain peralatan pertanian, alat kesenian juga dibuat oleh Mbah Munaji. Gamelan, saron, gemung, gender, kemong, gong dana dua hingga gong nada lima juga dibuat. Terutama bila ada pesanan dari para seniman jaranan, campur sari hingga karawitan. Bahkan, karya gamelannya bisa menembus pangsa pasar eropa.
“Sebenarnya bengkel besi saya ini awalnya hanya membuat peralatan pertanian, namun saat ada grup seniman yang berdiri dan memesan alat musik, saya pun akhirnya ikut membuat juga,” tutur Mbah Munaji.

Dari Rp 900 Ribu Menjadi Rp 15 Juta


Bermodal patungan dengan teman-temannya yang hanya membutuhkan modal sebesar Rp 900 ribu, kini usaha pembuatan bag log jamur tiram milik Takari Bambang Israwan dan saudaranya meningkat pesat. Dalam sebulan, omzetnya bisa mencapai Rp 15 juta.


Takari Bambang Israwan dan Agus Mulyadi, warga Dusun Mojorejo RT 11/ RW 03 Desa Pendem Kecamatan Junrejo ini benar-benar memulai bisnis pembuatan bag log dari nol.
Hanya sekali mengikuti pelatihan singkat tentang pertanian Jamur Tiram, Takari langsung menerapkan hasil pelatihannya pada September 2007 silam. Hasil pelatihan itu langsung diterapkan bersama rekan-rekan satu dusunnya. Bersama 8 orang kawannya, Takari membeli bibit jamur tiram di seorang pengusaha bibit jamur di Pandaan dengan modal awal hanya sebesar Rp 900 ribu.
Dari modal awal tersebut, didapatkan bibit jamur sebanyak 800 bag log, yang didapat dari salah seorang fasilitator pelatihan yang pernah diikuti oleh Takari. Bibit ini kemudian ditempatkan di sebuah kamar berukuran 3x4 meter yang berada di belakang rumah. Bibit ini tumbuh dan berkembang dan selama 3 bulan bisa dipanen sebanyak 4 kali. Bibit jamur ini kemudian dikembangkan untuk di simpan dalam bag log.

Kerajinan Kayu Rejoso yang Terus Eksis

Kerajinan Kayu Rejoso Junrejo

Badai krisis moneter menghantam Indonesia pada 1998. Saat itu seluruh sektor industri tiarap akibat krisis ekonomi yang juga terjadi dalam skala global. Hal ini juga dialami oleh UD Arjasa yang berada di jalan Trunojoyo No 25, Junrejo, Kota Wisata Batu. Salah satu produsen kerajinan kayu di kota wisata Batu ini juga mengalami berbagai terpaan. Nyaris bangkrut hingga mampu kembali berjalan seperti sediakala hanya dalam tempo yang relatif singkat.

Beberapa lelaki terlihat sibuk memasukkan kayu gelondongan kedalam sebuah mesin gergaji. Memotongnya menjadi papan pipih yang cukup lebar. Disudut yang lain, tampak beberapa lelaki mengambar papan pipih itu, sementara beberapa orang wanita asyik mengukir dan menggosok sebuah kayu yang sudah berbentuk. Disudut yang lain, beberapa orang lainnya menyemprot ukiran kayu yang sudah berbentuk itu dengan pewarna. Begitu selesai diwarna, segera kerajinan itu diperhalus dan diberi berbagai warna oleh rekannya.

Bertahan Ditengah Keterbatasan Modal

Dusun Rejoso, Desa Junrejo, Kota Batu sejak puluhan tahun lalu hampir seluruh penduduknya bekerja sebagai pengrajin cobek batu. Namun, krisis ekonomi beberapa tahun silam membuat banyak pengrajin gulung tikar. Kini beberapa diantaranya mencoba untuk tetap eksis ditengah keterbatasan modal dan sepinya pasar. Solusinya berkreasi dengan memproduksi alat dapur rumah tangga berbahan kayu.


Tidak sulit bagi masyarakat luar kota Kota Batu yang berkunjung di Kota ini untuk mencari cobek berbahan batu. Ataupun juga mencari peralatan dapur rumah tangga seperti sendok, garpu, entong (alat untuk mengambil nasi dari bakul) dan sejenisnya berbahan kayu. Dusun Rejoso, Desa Junrejo, Kota Batu adalah salah satu sentra industri cobek home produksi.